Sabtu, 17 Maret 2012 | By: namakuameliya

Analisis Cerpen Arinillah


a.      Metode yang digunakan
Analisis  dalam karya sastra tini menggunakan  kajian metode struktural. Menurut kaum strukturalisme, sebuah karya sastra adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsurnya. Analisis karya dengan metode struktural dapat dilakukang dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik karya sastra termasuk di dalamnya tokoh dan penokohanTokoh dalam karya fiksi adalah siapa yang ada dalam cerita tersebut. Penokohan menunjuk sifat, sikap, watak, dan karakter pada tokoh tertentu. Karakter atau perwatakan pada tokoh adalah utility yang utuh.
Setiap pengarang memiliki kebebasan untuk menggunakan tokoh sekehendaknya. Yang menjadi hal penting adalah bahwa sebagai karya naratif, karya sastra menceritakan seorang tokoh atau lebih yang memiliki watak, karakter, dan kepribadian yang berbeda-beda. Semuanya berhubungan dengan aspek psikologi dalam karya sastra yang akan dipaparkan selanjutnya.
b.      Penokohan dan Unsur Cerita yang lain
Karya fiksi adalah keutuhan artistik, dimana setiap unsurnya saling membangun. Antara unsur tokoh dengan tema, plot, dan sebagainya memiliki koherensi yang sangat kuat dan tidak bisa dilepaskan satu sama lain.
Dalam kehidupan nyata, tokoh yang berperan adalah manusia sebenarnya yang menjalani kehidupannya masing-masing. Tingkah laku, peristiwa, sikap, dan pikiran manusia telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Manusia dalam ralitas tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang meskipun sebelumnya telah direncanakan secara matang. Kehidupan manusia tidak dapat ditebak, berliku, lurus, terhambat, mulus, atau sebagainya seolah seperti jalan hidup manusia. Rencana hidup dituliskan dalam takdir Yang Maha Kuasa. Inilah perbedaan antara kehidupan nyata dan ‘kehidupan fiktif’. Kehidupan nayata tidak memiliki plot yang diketahui dengan jelas, sedangkan dalam karya fiksi memiliki plot jelas yang ditentukan oleh pengarang sekehendaknya.
Tokoh sebagai ‘pelaku’ dalam karya membawa pikiran pembaca untuk mengetahui alur cerita karena tokoh fiksi tidak mungkin keluar dari jalur plot yang telah ditentukan. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh tokoh dan bagimana cara mengatasi masalah dalam peristiwa tersebut adalah kerjasama yang erat antara plot dan tokoh atau penokohan. Terkadang pembaca mengharapkan tokoh fiksi sesuai dengan pikirannya yang dipengaruhi oleh kehidupan nyata. Sebagai contoh, tokoh yang sombong, kikir, korupsi seharusnya berujung dengan kematian atau penderitaan yang panjang. Tokoh yang baik, dermawan, murah hati, ramah, sopan, suka, rajin beribadah seharunya berujung dengan kebahagiaan.
Dalam cerpen Arinillah karya Taufik Hakim, – seorang sastrawan Mesir – terdapat tokoh seorang anak yang menginginkan agar ayahnya memperlihatkan Allah padanya. Dengan bahasa yang bijak ia berkata pada ayahnya, “Wahai Ayah, engkau sering beribicara banyak tentang Allah. Perilhatkanlah kepadaku!” Perkataan merupakan bahasa seseorang yang sudah memiliki kecerdasan yang tinggi disertai dengan respon yang kuat pada stimulus yang merangsangnya
Tokoh yang diangkat dan dianalisis dalam penelitian ini adalah tokoh seorang anak dalam cerpen Arinillah karya Taufiq Hakim. Sebagai gambaran, berikut ini adalah sebagian cerita yang melukiskan tokoh anak tersebut.
Pada zaman dahulu , ada seorang lelaki yang shalih dan bersih hati. Ia diberikan seorang anak yang cerdas oleh Allah swt, anak itu fasih berbicara karena kecerdasannya.
Pada suatu hari, ayah dan anak itu duduk bersama dan berbincang seperti dua orang sahabat, padahal antara ayah dan anak itu memiliki perbedaan umur yang cukup jauh. Ia memandangi anaknya lalu berkata:
“Aku bersyukur pada Allah!, engkau adalah nikmat yang Allah berikan padaku!”
Kemudian anak itu berkata:
“Wahai ayah, engkau sering memperbincangkan tentang Allah, perlihatkanlah Dia kepadaku!”
“Apa yang kamu ucapkan, Anakku?” ia menunduk dan kebingungan mendengar perkataan anaknya. Lalu ia berkata pada anaknya seolah seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Engkau ingin agar aku memperlihatkan Allah padamu?”
“Ya, Perlihatkanlah Allah padaku!”
“Bagaimana aku bisa memperlihatkan yang aku pun belum pernah melihatNya!”
“Lalu, kenapa engkau tidak bisa melihatNya?”
“Karena aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.”
“Kalau begitu, sekarang Ayah pergi mencariNya kemudian perlihatkanlah Allah padaku!”
“Baiklah, aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya, Anakku!”
Dari potongan cerita di atas, diketahui bahwa anak itu memiliki kecerdasan yang luar biasa sehingga ia ingin melihat Allah. Dalam buku Psikologi Perkembangan dijelaskan bahwa seorang anak memiliki kemampuan berfikir dan melihat hubungan-hubungan dengan segala sesuatu yang ada disekitarnya. Kemampuan untuk bertanya tentang segala sesuatu yang tidak dipahaminya akan muncul. Kemampuan ini disebabkan karena rangsangan yang sering diterimanya, dalam tokoh ini, rangsangan seorang ayah sering menyebutkan nama Allah menjadi pendorong keberaniannya untuk bertanya dan ingin mengetahui tentang Allah.
Awalnya seorang anak tidak akan memperhatikan hal-hal kecil seperti yang sering dilakukan oleh tokoh ayah dalam cerpen tersebut. Konsep Tuhan bagi anak-anak adalah seseorang yang sama seperti manusia. Inilah yang menjadi pendorong lain bagaiman tokoh anak itu ingin melihat Allah.
Seorang anak akan berbicara sekehendaknya saja, tak pernah memikirkan bagaimana perkataannya itu dimengerti dan menjadi pemikiran orang lain. Dengan polos (bagi anak-anak biasa) tokoh anak dalam karya sastra tersebut berkata: Perlihatkanlah Allah kepadaku!.
Setelah itu pun ia bertanya mengapa ayahnya tidak pernah melihat Allah, ini merupakan kecerdasan yang luar biasa bagi seorang anak. Faktor genetis bisa saja menjadi pengaruhnya. Keberaniannya bertanya bukti kecerdasan dan keingintahuannya.
Bahkan dengan ringan tokoh anak itu menyuruh ayahnya mencari Allah supaya bisa diperlihatkan kepadanya. Dari semua ucapan anak itu, dijelasakan dengan menggunakan konsep psikologi bahwa pembicaraan seorang anak bisa menimbulkan bahaya. Dalam hal ini, bahaya tersebut bersifat positif karena mempertanyakan Tuhan.
Dalam percakapan lain dalam cerpen ini yaitu ketika sang ayah tak mampu memperlihatkan Allah kepada anaknya. Dengan petunjuk dari seorang ulama, ia mengasingkan diri dan bersujud untuk mendapatkan cinta dari Allah sehingga ia bisa melihatNya. Lelaki itu tak bergerak sama sekali ketika keluarga beserta anaknya datang dan memintanya untuk pulang. Lalu anak itu berkata:
“Ayah, apakah engkau tidak mengenaliku?”
Namun ketika anaknya berteriak, ia tidak bergerak sedikitpun. Kemudian seorang ulama itu berkata kepada keluarganya bahwasanya meskipun lelaki itu dibunuh, maka ia tidak akan merasakannya karena telah mendapatkan setengah biji dzurrah dari cinta Allah.
Anak itu berkata:
“Ini adalah dosaku yang memintanya agar memperlihatkan Allah kepadaku!”
Jika diperhatikan perkataan di atas, serasa tak mungkin jika seorang anak biasa yang masih belum baligh tahu tentang dosa. Namun, sang pengarang, yaitu Taufiq Hakim, dengan kecerdasan dan kretivitasnya lebih dulu menjelaskan bahwa tokoh anak dalam cerpennya memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang luar biasa

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Sabtu, 18 Februari 2012 | By: namakuameliya

ASPEK2 SEMANTIK


PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sistem komunikasi yang amat penting bagi manusia. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa sentiasa dianalisis dan dikaji dengan menggunakan perbagai pendekatan untuk mengkajinya. Antara pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan makna. Semantik merupakan salah satu bidang semantik yang mempelajari tentang makna.
Lalu apakah pengertian dari makna, aspek apa saja di dalamnya dan seperti apakah keterkaitan aspek-aspek makna tersebut dengan jenis-jenis dari makna yang dipelajari dalam semantik ? Pada bagian selanjutnya dari makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pengertian makna, aspek-aspek makna dan keterkaitannya dengan beberapa jenis makna yang dipelajari dalam semantik.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Makna
Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda, 2001:82) mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.
Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :
1. maksud pembicara;
2. pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
3. hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,dan
4. cara menggunakan lambang-lambang bahasa ( Harimurti Kridalaksana, 2001: 132).
Bloomfied (dalam Abdul Wahab, 1995:40) mengemukakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. Terkait dengan hal tersebut, Aminuddin (1998:50) mengemukakan bahwa makna merupakan hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti.
Dari pengertian para ahli bahsa di atas, dapat dikatakan bahwa batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.
B. Aspek-aspek Makna
Aspek-aspek makna dalam semantik menurut Mansoer Pateda ada empat hal, yaitu :
1. Pengertian (sense)
Pengertian disebut juga dengan tema. Pengertian ini dapat dicapai apabila pembicara dengan lawan bicaranya atau antara penulis dengan pembaca mempunyai kesamaan bahasa yang digunakan atau disepakati bersama. Lyons (dalam Mansoer Pateda, 2001:92) mengatakan bahwa pengertian adalah sistem hubungan-hubungan yang berbeda dengan kata lain di dalam kosakata.
2. Nilai rasa (feeling)
Aspek makna yang berhubungan dengan nilai rasa berkaitan dengan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.dengan kata lain, nilai rasa yang berkaitan dengan makna adalah kata0kata yang berhubungan dengan perasaan, baik yang berhubungan dengan dorongan maupun penilaian. Jadi, setiapkata mempunyai makna yang berhubungan dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan perasaan.
3. Nada (tone)
Aspek makna nada menurut Shipley adalah sikap pembicara terhadap kawan bicara ( dalam Mansoer Pateda, 2001:94). Aspek nada berhubungan pula dengan aspek makna yang bernilai rasa. Dengan kata lain, hubungan antara pembicara dengan pendengar akan menentukan sikap yang tercermin dalam kata-kata yang digunakan.
4. Maksud (intention)
Aspek maksud menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001: 95) merupakan maksud senang atau tidak senang, efek usaha keras yang dilaksanakan. Maksud yang diinginkan dapat bersifat deklarasi, imperatif, narasi, pedagogis, persuasi, rekreasi atau politik.
Aspek-aspek makna tersenut tentunya mempunyai pengaruh terhadap jenis-jenis makna yang ada dalam semantik. Di bawah ini akan dijelaskan seperti apa keterkaitan aspek-aspek makna dalam semantik dengan jenis-jenis makna dalam semantik.
1. Makna Emotif
Makna emotif menurut Sipley (dalam Mansoer Pateda, 2001:101) adalah makna yang timbul akibat adanya reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai atau terhadap sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan. Dicontohkan dengan kata kerbau dalam kalimat Engkau kerbau., kata itu tentunya menimbulkan perasaan tidak enak bagi pendengar. Dengan kata lain,kata kerbau tadi mengandung makna emosi. Kata kerbau dihubungkan dengan sikap atau poerilaku malas, lamban, dan dianggapsebagai penghinaan. Orang yang dituju atau pendengarnya tentunya akan merasa tersimggung atau merasa tidak nyaman. Bagi orang yang mendengarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang ditujukan kepadanya tentunya akan menimbulkan rasa ingin melawan. Dengan demikian, makna emotif adalah makna dalam suatu kata atau kalimat yang dapat menimbulkan pendengarnya emosi dan hal ini jelas berhubungan dengan perasaan. Makna emotif dalam bahasa indonesia cenderung mengacu kepada hal-hal atau makna yang positif dan biasa muncul sebagai akibat dari perubahan tata nilai masyarakat terdapat suatu perubahan nilai.
2. Makna Konotatif
Makna konotatif berbeda dengan makna emotif karena makna konotatif cenderung bersifat negatif, sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif (Fathimah Djajasudarma, 1999:9). Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau didengar. Misalnya, pada kalimat Anita menjadi bunga desa. Kata nunga dalam kalimat tersebut bukan berarti sebagai bunga di taman melainkan menjadi idola di desanya sebagai akibat kondisi fisiknya atau kecantikannya. Kata bunga yang ditambahkan dengan salah satu unsur psikologis fisik atau sosial yang dapat dihubungkan dengan kedudukan yang khusus dalam masyarakat, dapat menumbuhkan makna negatif.
3. Makna Kognitif
Makna kognitif adalah makna yang ditunjukkan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponenya (Mansoer Pateda, 2001:109). Kata pohon bermakna tumbuhan yang memiliki batang dan daun denga bentuk yang tinggi besar dan kokoh. Inilah yang dimaksud dengan makna kognitif karena lebih banyak dengan maksud pikiran.
4. Makna Referensial
Referen menurut Palmer ( dalam Mansoer Pateda, 2001: 125) adalah hubungan antara unsur-unsur linguistik berupa kata-kata, kalimat-kalimat dan dunia pengalaman nonlinguistik. Referen atau acuan dapat diartikan berupa benda, peristiwa, proses atau kenyataan. Referen adalah sesuatu yangditunjuk oleh suatu lambang. Makna referensial mengisyaratkan tentang makna yamg langsung menunjuk pada sesuatu, baik benda, gejala, kenyataan, peristiwa maupun proses.
Makna referensial menurut uraian di atas dapat diartikan sebagai makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata atau ujaran. Dapat juga dikatakan bahwa makna referensial merupakan makna unsur bahasa yanga dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, baik berupa objek konkret atau gagasan yang dapat dijelaskan melalui analisis komponen.
5. Makna Piktorikal
Makna piktorikal menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001:122) adalah makna yamg muncul akibat bayangan pendengar ataupembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca. Makna piktorikal menghadapkan manusia dengan kenyataan terhadap perasaan yang timbul karena pemahaman tentang makna kata yang diujarkan atau ditulis, misalnya kata kakus, pendengar atau pembaca akan terbayang hal yang berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kakus, seperti kondisi yang berbau, kotoran, rasa jijik, bahkan timbul rasa mual karenanya.
PENUTUP
A. Simpulan
Makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. makna merupakan hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti. Batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.
Aspek-aspek makna dalam semantik menurut Mansoer Pateda ada empat hal, yaitu :
1. Pengertian (sense)
2. Nilai rasa (feeling)
3. Nada (tone)
4. Maksud (intention)
Keempat aspek makna di atas memiliki keterkaitan dengan jenis makna yang ada dalam semantik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Abdul Wahab. 1995. Teori Semantik. Surabaya: Airlangga University Press.
Aminuddin. 1988. Semantik. Bandung: Sinar Baru.
Fathimah Djajasudarma. 1999. Semantik 2: Pemahaman Makna. Bandung: Refika Aditama.
Harimurti Kridalaksana. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mansoer Pateda. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Cahyono, Bambang Yudi. 1994. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 1994. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. 2005. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Rabu, 14 Desember 2011 | By: namakuameliya

Simbolisasi dalamIstilah dan Pemahaman Sejarah Sastra

Meskipun judul simbolisi dalam  istilah dan pemahaman dari  perluasan apa-apa yang menjadi sifat sehingga Epos mungkin dalam batas-batas penelitian saat ini Alraúasahdengan kandungan batasan melihat tergadai. Dan kalimat kembali ke zaman yunani kuno, dan terbukti didalamnya sejarah terikat  yang belum mengikuti satu sejarah yang di tulis disekitar istilah yaitu sejarah rumusan (1912) dengan bentuk yang sempurna.
Akan tetapi apa-apa yang diinginkan dalam pembahasan disini yaitu sesuatu yang lebih banyak batasannya. Maka tidak diinginkan pembahasan dalam rumus dan rumusan dalam sastra, akan tetapi akan memperpendek diri sendiri atas istilah dan pemahaman seperti periode dari periode-periode sejarah sastra. Maka itu bahwasannya bisa dilihat bahwa istilah rumusan mungkin pelayanannya seperti istilah umum yang termasuk atas sastra            pelosok aneh setelah kejadian abad 19 , dan atas kesucian yang mendahului harokat yang muncul baru: yang dilakukan, penjelasan,eksistensialisme, kesetiap apa-apa yang ada disana dari harokat baru. Bagaimana kemunculan lambang? Dan apakah mungkin rasionalisasi pelayanan pemakaian untuk istilah atas tipe ini?
Maka wajib untuk kita menyimbolkan masalah-masalah yang bermacam-macam: maka sejarah kalimat tidak sesuai dengan kebutuhan bersama sejarah pemahaman seperti telah nasugoha hari ini.Maka bagi kita agar kita bertanya dari segi meskipun zaman dan pemahaman padanya, dan siapa yang menyamakan dirinya sendiri sebagai simbol, dan  siapa yang mengetahui untuk menghitung atas harokat rumusan? Dan kita akan menanyakan dari segi kedua bagaimana mungkin untuk mencari hadist untuk mengulanginya dengan jelas dengan kemungkinan mereka memasukka dalam harokat, dan tentang kekhususan yang jelas yang perbedaan kesucian didalamnya. Dan ketika kita membicarakan tentang simboli dengan pertimbangan kesucian baginya tempatnya pada zaman maka kita juga harus mengikat dengan keajadiannya di tempat. Maka pengistilahan sastra biasanya yang tersebar dari satu pusat, akan tetapi penyebarannya tanpa peraturan, maka dapat dilihat jejak atas batasanqotrun dari aqtor, atau membicarakan tentang batasan itu akan tetapi terjatuh disana, atau telah tazdaharu dengan kuat dalam tanah yang baru. Maka dari itu jika kita dengan keinginan kepada geografi untuk pengistilahan sastra bagi kita penyebaran pengistilahan dan tauziiha .tentang cara kefasihan pengistilahan kesusastraan.

Di sana, dimulai, kesepakatan yang luas bahwasannya sejarah sastra untuk abad yang akan datang untuk ujung zaman pertengahan terbagi kapada 5 periode yaitu: zaman perkembangan., penakut, klasik, dan romantisme, dan kejadian. Dan mempertimbangkan istilah penakut dengan istilah yang baru dengan ciri beserta sisa pengistilahan, dan belum tentu setelah persetujuan umum beserta bahwasannya terdapat keinginan yang jelas untuk uslub yang seperti kembali fiil kebalikan gaya bahasa zaman  perkembangan klasik. akan tetapi atas pengistilahan yang wajib pemakaiannya untuk menamai sastra yang akhir kekuasaannya terjadi  kurang lebih 80-90 abad. Dan telah  menamai pengistilahan modern, dan menyamakannya seperti istilah die modern, akan tetapi  kurang dalam contoh pengistilahan ini sesuai atau seni modern . Dan telah terjaga kalimat modern dengan adanya kekhususan arti yang lalu yang  mengandung perbandingan dengan zaman klasik lama. Seperti telah terjaga untuk mendeskripsikan sesuatu apapun yang dibicarakan selama zaman pertengahan. Dan telah diungkapkan sejarah kimibroj yang baru dengan jelas di jalan ini. Seperti memulai atas perpindahan keistimewaan periode baru......sekarang ke yang lalu dan antara periode serentak untuk memulai , dari segi teri rasio yang mudah. Maka kalimat (sekarang). Maka terjaga pengistilahan yang baru dengan bentuk yang di bicarakan antara periode simbolisasi dan setiapa harokat. Adapun di timur maka mereka akan menjaga pengistilahan setiap berahlak bejat formal, diasingkan: dan menjadi istilah.
Kebanyakan dari mereka pencipta teori yang berharga awal abad ini dengan persyaratan kepercayaan lama bahwa istilah-istilah tersebut berlaku untuk semua literatur, atau bahwa mereka tidak Atqadehm namun Cano merayakan gaya yang lebih tua. Beberapa dari mereka mungkin terjadi, terutama di Perancis, untuk klasik lain, dengan asumsi bahwa semua seni yang baik adalah seni klasik tentu. Para Krotse aman Bogehh Altzer ini. Mereka yang merasakan ikatan kekerabatan dengan era romantis, terutama di Jerman, berbicara tentang romantis dan Asnchdoa Pepatah Fredrkh baru Schlegel, yang merupakan puisi romantis keseluruhan. Sebagai pendukung realisme, di tempat mantan Marxis yang pertama, karena setiap seni dan realitas, atau gambar dari realitas, setidaknya. Di sini, cukup untuk merujuk ke sebuah buku Georg Lukacs, yang diterbitkan pada Alohesttiqa Haddasa yang mengulangi pernyataan ini lagi mencapai titik obsesi. Aku menghitung seberapa sering menggunakan ekspresi ((sebuah refleksi realitas)) dalam volume pertama buku ini dan menemukan itu 1032 kali, tapi saya berhenti menghitung pada bagian kedua karena Oalmell kemalasan. Single-Hzhalnzerh merusak semua upaya yang wajar untuk membagi ke dalam periode sastra. Serta untuk Kttaúah Atguetana bilateral klasik dan romantis, yang Afterhaa Verts Strkh yang mengalihkan perhatian kita dari konsep-konsep periode Takhaddana untuk Taibologih kekuatan komprehensif dari pembagian sederhana dari divisi dunia untuk domba betina dan domba. Saya sendiri beberapa tahun yang lalu aku menelepon perlu untuk melihat keanekaragaman karena memungkinkan kita untuk menggunakan sejumlah besar Standar. Vaalmair berasal dari realisme saja, misalnya, membagi semua seni untuk seni realistis dan Awaqaa, sehingga Vtoniemah kita keinginan resep Balsthaddam satu, yaitu: ((dan realistis)) atau Maihl diganti, seperti ((true)), atau ((seperti kehidupan)). Pandangan multi jauh lebih dekat dengan kebenaran pluralisme yang kita lihat dalam pawai sejarah. Kita tidak harus memahami periode seolah inti. Kita harus iri kepadanya secara intuitif tidak ada contoh dari FAO Tony sebagai bahasa tanda nya secara acak. Tapi kita harus mempertimbangkan ide organisasi, atau jaringan Standar dan norma-norma dan nilai-nilai yang dapat melacak awal, proliferasi dan pembusukan dalam konflik dengan pendahulunya dan Jangkauan pada standar dan norma-norma dan nilai-nilai (4)ا
Tampaknya istilah ini paling tepat untuk menggambarkan karena Lereng Alstalahat yang berlaku setelah realisme abad kesembilan belas. Kaki pada Hmaalasas Edmund Wilson di Axel Buku Benteng (1931), dan dianggap dalam kitab Morris Bora Hlermazih Warisan (1943) kepastian. Tapi tentu saja kita hanya bingung Hmaalchukl antara Abralasor peregangan sejarah dan simbolis, atau antara itu dan pandangan bahwa seni semua memiliki keuntungan bahwa bahasa adalah seperti sebuah sistem simbol. Valrmazih berarti penggunaan simbol dalam sastra, sesuatu yang melekat dalam literatur banyak gaya dan era dan peradaban. Dan tersebar luas dalam literatur Abad Pertengahan. Bahkan, karya realisme - seperti dalam karya Tolstoy dan Flaubert dan Balzac dan Dickens - Tsthaddm Alrmzasthaddama menonjol dalam banyak kasus. Secara pribadi, saya katakan, pentingnya Alldoralhacm dimainkan oleh ikon dalam setiap definisi romantis, dan panjang lebar tentang kontroversi Kdbt Jerman proporsional terus sejak hari sampai hari Goethe Fredrkh Theodor Fischer tentang saya kata ((simbol)) dan memenuhi kata-katanya ((Alolegwai)) 5
Baik dalam penelitian saat ini, saya ingin memusatkan perhatian pada perkembangan yang terjadi dalam sejarah konsep tersebut sebagai istilah oleh sebuah sekolah bernama setelah gerakan pertama sastra, kemudian, dan akhirnya sebagai suatu periode. Bagian belakang istilah ini sebagai nama dari koleksi pertama dari puisi dalam tulisan-tulisan Jean Mazar Morris, awalnya seorang penyair Perancis Yunani. Telah mengganggunya pada 1885 serangan terhadap Almnhalin tekan namanya muncul, uang dilemparkan, ia menulis bek: ((Konsep yang disebut Mounhalin mencari murni, simbol abadi dalam seni mereka sebelum hal lain)). Di tengah perasaan muak terhadap obsesi dengan label * Altkad Aloligora:
Disarankan kata (Alrmazian) untuk menggantikan kata yang salah (6). Pada tahun 1886, Morris mendirikan sebuah majalah bernama simbolis ditahan setelah masalah keempat. Pada tanggal 18 September 1886 publikasi Morris Lissan di surat kabar Le Figaro. (7). Tapi Morris segera ditinggalkan ini dan mendirikan sekolah lain yang disebut ((sekolah Rumania)). Pada 14 September 1891 mengumumkan kepercayaan Morris berlebihan dalam sejumlah nomor lain dari Le Figaro, keuntungan yang telah meninggal (8). Dengan demikian keuntungan dari nama penyair melewati Zakrh Perancis kecil. Nama-satunya yang tidak lupa, bersama dengan Morse Gustav itu. Dan lebih mudah untuk mengumpulkan pernyataan yang dibuat oleh penyair kontemporer senior yang menolak lamarannya kata kepada mereka. Verlaine adalah Alkrahim sangat parah kata ini awalnya Jerman. Tapi dia menulis sebuah puisi kecil dimulai sehingga ((dihancurkan secara simbolis, legenda - dan serangga tanah)) (9).
Namun Haah kata dalam akhir tahun delapan puluhan dan awal tahun sembilan puluhan, diperlukan untuk mengeksplorasi rinci, sebagai nama umum dari perkembangan yang telah terjadi sebelum itu dalam puisi Perancis lama. Anatole adalah Pajukd Mallarmé berbicara tentang, 10 April 1886 di Journal of judul setiap pernyataan terlarut Morris, menjelaskan itu ((guru yang pertama kali dirumuskan doktrin simbolik)) (10). Tampaknya para kritikus Charles Morris dalam waktu Sastra bukunya, dan Theodore de Vigiva, lahir di Polandia, dalam artikelnya ((simbolis Mr Mallarmé)) (1887) adalah faktor yang paling penting dalam menyebarkan kata dengan Morris berbicara tentang struktur, bukan kode, dan dianggap Vigiva ikon hanya alasan , dan menafsirkan puisi Mallarmé disamakan Jat-suara (11). Saint-Antoine Apakah Anda (nama samaran Henry Mazel) sejak tahun 1894 adalah bahwa kehendak ((tentu saja, adalah nama yang Anda akan tahu dengan periode kami dalam sejarah sastra Prancis)). (12)
Tapi sejarah akhir dari gerakan ini masih merupakan subyek kontroversi dalam sejarah sastra Prancis. Kita harus terus bekerja untuk menghidupkan kembali Adhmrat - pada tahun 1905, misalnya, diambil majalah Hab puisi dan prosa memiliki platform. Dia mendengus Nakedha Alis Robert de Souza dalam serangkaian artikel yang berjudul Dimana kita berdiri? (Juga diterbitkan secara terpisah dalam 1906). Dari banyak usaha yang mengambil tempat untuk penguburan adalah sebagai upaya dini, dan membual bahwa Gustav adalah Verhern dan Philly - dan Gervn Mitrlink Rnier dan masih di puncak aktivitas mereka (13). Valerie telah melalui semua ide kesetiaan dan uang terlempar dari kedalaman yang sulit bagi kita untuk tidak menganggapnya sebagai pelengkap simbolis meskipun melalui tahun 1938, Bmnaslh ulang tahun kelimapuluh dari pernyataan simbolis, mempertanyakan keberadaan avatar, dan membantah adanya Asttiqa simbolis. (14) adalah bahwa Marcel Proust Alasttiqa seperti dirumuskan secara eksplisit di bagian akhir hidupnya elang setelah seri waktu yang besar dipulihkan (1926). Termasuk arah menuju sezamannya Alrmazian sering kabur dan negatif. Proust telah menulis sebuah artikel pada tahun 1896 menyerang ambiguitas pada rambut (15). Suka dan tidak suka Tautan meter Peggy Claudel. Tapi dia menulis sarkastis untuk Zcefa Rnier adalah deskripsi keseriusan berpura-pura cedera dingin (16). Dan waktu ketika diterbitkan pada tahun 1926 dan dikembalikan diklaim Valery Arbo beberapa tahun kemudian bahwa Proust adalah surealisme simbolis, dalam Alhat Perancis setidaknya, telah diganti adalah. (17)
Saya dilacak menulis banyak Perancis buku-buku literatur penelitian, termasuk bar buku André pada Avatar (1911), khususnya Buku Guy Micho surat simbolisme puitis (1947), ditelusuri Properti Dimiliki oleh sejarawan visi diperoleh tentang peristiwa tahap masa lalu Bbodller Prancis pertama gerakan fase Frbtt ( yang meninggal pada 1867) sebagai batas-batasnya, dan tahap kedua Bakirlen Mallarmé dan sementara mereka berada di atas Abdallma, sebelum munculnya kelompok pada tahun 1886, dan tahap ketiga periode pilar stabilitas
Membuat ikon baru untuk menggantikan simbol seorang Kristen Protestan yang hilang)) (27). Kha memperluas sangat aktif saat ini di Amerika Moneter interpretasi simbolik untuk mencakup semua jenis sastra dan zaman, dia menyajikan tulisan-tulisan Atdm bahwa makna, atau setelah pemaksaan penafsiran Tdmh keras kepala. Itu adalah Harry Levin adalah benar mengeluh dalam sebuah pidato berjudul ((ada di novel)) (1956) bahwa ((pahlawan setiap mungkin tampak wajah seribu, dan semua juara mungkin dewi yang menyamar putih, dan setiap perjalanan memancing mungkin terlihat seperti perjalanan lain dalam permintaan Holy Grail)) (28). Larg yang [Almitmdh Ada ide dari anggota (sekolah) di Cambridge Alonscheropoulojia Carl Ling dan dampak yang jelas. Studi ini muncul dalam teks abad pertengahan yang berarti bunga Mottagddbmistoaat empat dan Dvha Dante dalam suratnya ke Grand, Fastkhaddmtha kelompok besar Alamoakyin peneliti, di bawah Tatherd. Dan. Robertson pertama tempat, untuk menjelaskan Jusr dan penulis puisi Pearl dan Inggris, atau salah menafsirkan mereka dan menurut mereka (29). Tapi ini peneliti harus ingat bahwa Thomas Aquinas tidak mengenali arti non-literal dalam setiap manusia telah ditulis, dan itu menghentikan tiga makna lain untuk Alkitab (30). Tetapi interpretasi simbolik memiliki berbagai kesombongan dalam tulisan Northrup Frye, yang memulai sebuah buku tentang Blake, dan memandang sastra sebagai keseluruhan dalam membedah kritik (1957) sebagai suatu sistem terpadu dari simbol dan mitos ((telah Khas dunianya, sehingga tidak lagi penjelasan dari kehidupan atau realitas, tetapi juga termasuk kehidupan dan realitas dalam suatu sistem hubungan, bahasa)). Konsep ini adalah dinegasikan dalam penguat semua perbedaan antara periode dan metode: ((Dunia dunia sastra untuk segala sesuatu yang bisa untuk mencocokkan dengan segala sesuatu yang lain)) (31). Oleh karena itu, perbedaan hilang antara mitos lama dan simbol dan Aloligora. Pengikut Goreng semakin tinggi, sebuah Vjer Angus dalam bukunya Aloligora (1964) akan Aloligora membuat mereka dan seni cara dasar, namun Fry tetap berpegang teguh pada simbolisme karena sadar ((penafsir kritikus sering bias terhadap Aloligora tanpa mengetahui mengapa, bahwa Alalbgora ditetapkan terus menerus arah menuju interpretasi, dan karena itu membatasi kebebasan)) (32).
Cerita Anchar adalah berbeda di negara-negara lain sangat bervariasi. Itu pengaruhnya di Italia pada sedikit jelas. Buklet, diterbitkan oleh Sovigi Rambo pada tahun 1911 untuk memulai pengaruh Perancis biasanya simbolis, tapi perpisahan terakhir untuk Mallarmé adalah Vetorio Pekka, yang sangat bergantung pada sumber-sumber Perancis, terutama pada tulisan-tulisan Theodore, yang Vigiva Pekka. Harness artikel yang diterbitkan di majalah sastra (1885-1886) tentang penyair Perancis, kata itu, Zelknh digunakan sebagai pengganti kata-kata dan sastra Bizantium terlarut pada tahun 1896 (33). Hari ini kita setengah Alrmazian Danonzio yang tahu beberapa manfaat Prancis dan dari mereka, bahwa dari penyair pembusukan, yang kita mengklasifikasikan penyair yang berkumpul di sekitar Ongarta dan Monta saya bahwa mereka Hermcin. Para Campana Bascola dan Dinoa dan Arturo atau Novry buku Qidaohm terakhir adalah ide buku ini (1959) oleh Mario Luzi Härle simbolis, tetapi Ze menggunakan kata adalah rasa lebarnya bahwa penulis dimulai Mokhtarath adalah Aohaar dari Holderln dan Novals dan Kolrj dan Odzurth, Weber Bo dan Anng dan Batamor dan Sonbern dan Hilkens dan Francis Tomisn dari para misionaris. Namun daftar penyair Alrmazian dari Inggris Perancis dan Rusia, Jerman, Spanyol dan Yunani, daftar wajar pada umumnya (34). Tidak ada keraguan bahwa Bmalarmah Onofre telah dipengaruhi oleh Rudolf Steiner, dan sesudah dia sangat terpengaruh. Para Bascola tampaknya saya simbolis puisi, meskipun interpretasi yang dibuang di Dante ini. (35) dan mungkin telah lebih baik sebagai sebuah kata ((hermsii))

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Introduction